Minta Pemerintah Lebih Perhatikan Daerah Terpencil

Rabu, 24 November 2021

Irdayanti, Dosen UIN SUSKA, Pekanbaru (dok. Irdayanti)

PEKANBARU, Riautribune.com - Dua orang dosen dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) Pekanbaru, Irdayanti dan Anna Nurlita, bersama seorang psikolog, Salmiyanti, melakukan penelitian tentang penyebaran informasi dan pemetaannya, yang menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kasus di Pulau Rupat, Riau.

Dengan memakai metode pengumpulan data melalui observasi pada wilayah perbatasan serta wawancara kepada pegawai pemerintah Kabupaten Bengkalis dan masyarakat perbatasan, penelitian ini sudah berlangsung sejak Januari 2021 hingga November 2021.

Hal ini terkait dengan wilayah yang terletak di sepanjang batas wilayah Indonesia dengan negara lain, dimana pada umumnya masih tertinggal dibandingkan dengan wilayah di perkotaan.

 Disamping kebutuhan pokok yang sangat minim, terdapat kebutuhan lain yang belum terpenuhi dengan baik yaitu kebutuhan informasi di dalam negeri dan penetrasi siaran televisi dari negara tetangga, Malaysia.


Penelitian ini mereka lakukan untuk mendeskripsikan bagaimana implementasi ketahanan informasi di wilayah perbatasan khususnya di propinsi Riau melalui operasional konsep David L. Weimer dan Aidan R. Vining (policy analysis of Berkeley) tentang kebijakan publik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan informasi di wilayah perbatasan, menuju proses perbaikan pada infrastrukur telekomunikasi yang tumbuh cukup pesat di wilayah perbatasan, selain itu akses terhadap informasi publik juga terus dibangun oleh pemerintah daerah.

"Masih ditemukan di beberapa daerah perbatasan seperti pulau Rupat, akses yang mudah terhadap media televisi dan radio dari Malaysia," ungkap Irdayanti kepada riautribune melalui sambungan telepon pribadinya pada Rabu pagi (24/11/2021).

Namun dari sisi penyiaran televisi maupun radio, masyarakat perbatasan masih mengalami ketertinggalan. Di samping kemudahan dalam mengakses channel televisi Malaysia, pada umumnya kehidupan sosial budaya masyarakat di wilayah perbatasan terkonstruksi dari program channel televisi Malaysia yang mereka nikmati.

"Kurangnya sarana dan prasarana seperti pemancar, transmisi radio dan televisi serta telepon di daerah perbatasan, menyebabkan infiltrasi melalui media massa elektronik khususnya televisi dan radio tidak dapat dihindarkan, terutama adanya sisi praktis dan efisien dalam me-relay siaran dari Malaysia, yang mudah ditangkap dan diakses dengan kualitas suara dan gambar yang jelas," papar Irdayanti.

Mereka berharap, melalui penelitian ini dapat membuka wacana bagi pemerintah baik pusat maupun daerah, agar memeratakan pembangunan baik dari segi infrastruktur dan telekomunikasi bagi masyarakat di perbatasan.

"Semoga kedepannya tidak lagi ada daerah yang menjadi tertinggal," tutup Irdayanti. (Reynold)