Awas! Sindrom Happy Hipoksia Adalah Gejala Pasien Covid-19 yang Tidak Disadari

Senin, 12 Juli 2021

Foto : Mstar

SALAH satu gejala Covid-19 yang sering tidak disadari tetapi berisiko adalah sindrom happy hypoxia yaitu suatu kondisi di mana kadar oksigen menurun tetapi pasien terlihat normal. Biasanya gejala kekurangan oksigen disertai dengan sesak napas, sesak napas, sakit kepala, gelisah dan kulit menjadi kebiruan.

NetMeds melaporkan tingkat kandungan oksigen normal berkisar antara 95 hingga 100 persen. Ketika kadar oksigen rendah, biasanya beberapa gejala muncul.

Gejala tersebut muncul sebagai tanda organ vital seperti ginjal, otak, jantung mulai bermasalah karena kekurangan oksigen. Namun happy hypoxia yang dialami pasien Covid-19 tidak menunjukkan tanda-tanda kekurangan oksigen dan kondisinya mengkhawatirkan serta bisa berakibat fatal jika tidak segera diberikan penanganan.

Penyebab happy hypoxia

Penyebab happy hypoxia pada pasien Covid-19 biasanya karena darah menjadi terkonsentrasi di jaringan pembuluh darah di paru-paru. Kondisi ini menyebabkan peradangan pada tubuh akibat infeksi virus Covid-19. Saat tubuh mengalami peradangan, protein akan membentuk gumpalan darah sebagai respons alami terhadap sistem kekebalan tubuh.

Bila berlebihan, sel-sel di jaringan paru-paru tidak mampu mensuplai oksigen yang cukup dan kondisi ini berbahaya bagi pasien jika tidak segera ditangani.

Pembekuan darah tidak hanya terjadi di paru-paru tetapi dapat menyebar ke organ vital lainnya seperti ginjal dan otak yang dapat berujung pada kematian pasien.

Dalam keadaan normal, masalah kekurangan oksigen akan menunjukkan gejala sesak napas dan nyeri dada.

Gejala happy hypoxia

Meski hipoksia bahagia tidak menunjukkan gejala kekurangan oksigen namun masalah ini sebenarnya bisa dideteksi. Diantara gejala yang perlu diperhatikan adalah;

1. Badan terasa lemas

2. Bibir atau jari tangan dan kaki menjadi kebiruan

3. Tingkat saturasi oksigen menurun di bawah 94 persen
 

Bagaimana mencegah happy hypoxia

Masalah happy hypoxia ini sebenarnya dapat dicegah agar tidak berdampak buruk pada pasien termasuk kematian. Bagi pasien Covid-19, pengecekan tingkat saturasi oksigen secara berkala dengan alat pulse oxymeter sangat membantu. Namun, dengan tidak adanya perangkat tersebut, pasien perlu peka terhadap gejala pada tubuh.

Pasalnya, sindrom tersebut bisa dialami oleh pasien Covid-19 tanpa gejala atau bahkan dengan gejala ringan.