Lift Blok M Square Anjlok, Labfor: Penyebabnya Kelebihan Beban

Dibaca: 21239 kali  Sabtu, 08 April 2017 | 10:44:38 WIB
Lift Blok M Square Anjlok, Labfor: Penyebabnya Kelebihan Beban
Ket Foto : foto Detik.com

JAKARTA - riautribune : Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Budi Hermanto mengatakan pihaknya telah mendapatkan hasil forensik penyebab jatuhnya lift di Blok M Square beberapa waktu lalu.

Hasilnya, lift jatuh disebabkan kelebihan beban. "Hasilnya karena over capacity (kelebihan kapasitas)," kata Budi saat dikonfirmasi, Sabtu, 8 April 2017. Budi menuturkan, dari hasil forensik dan pemeriksaan sejumlah saksi ahli, pihaknya tidak menemukan pelanggaran prosedur yang dilakukan pihak mal atau pengelola.

“Sistem perawatan yang dilakukan pengelola dengan baik,” ujar Budi. Bahkan, kata Budi, tiga hari sebelum kejadian, lift yang anjlok itu menjalani perawatan, termasuk penggantian spare part-nya.

"Kami sudah menyelidiki apakah slingnya atau sparepartnya bermasalah, tapi nyatanya masih layak, ada ahli yang membuktikannya," ujar Budi. Lift tersebut, kata Budi, memiliki kapasitas 1.600 kilogram, tapi saat peritiwa berlangsung, lift terisi hingga 2.000 kilogram lebih.

Alarm lift pun sudah berbunyi sejak di lantai tujuh, namun pengunjung tidak mengindahkannya. Ditambah lagi saat berada di lantai tiga, kapasitas ditambah lagi hingga 31 orang. "Dua orang terakhir itu berlari dan melompat, menyebabkan lift oleng dan melorot membuat sistem pengaman tak maksimal," ucap Budi.

Lift di Blok M Square anjlok pada Jumat, 17 Maret 2017. Akibanya, lebih dari 25 orang terluka. Korban yang sebagian besar mengalami patah tulang dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Pihak pengelola mal menyatakan bertanggung jawab atas biaya perawatan seluruh korban.(tmpo)

 

Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Nasional" Index »

Rabu, 19 September 2018 - 11:04:12 WIB

Legislator Pertanyakan Dasar Penyusunan RUU Kerja Sama Pertahanan Luar Negeri

Anggota Komisi I DPR RI Supiadin Aries Saputra mempertanyakan peran Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara yang tidak dimasukkan sebagai dasar penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kerja Sama Luar Negeri Bidang Pertahanan, khususnya dalam pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) RUU Kerja Sama antara Indonesia dengan Arab Saudi dan Belanda di Bidang Pertahanan.