Hasyim Muzadi, Politik, dan Pendidikan Moderat

Dibaca: 12990 kali  Kamis, 16 Maret 2017 | 12:17:58 WIB
Hasyim Muzadi, Politik, dan Pendidikan Moderat
Ket Foto :

"Perguruan tinggi menciptakan manusia pintar yang belum tentu memiliki moral."

Ulama yang sadar politik dan mencintai pendidikan. Gambaran itu lekat dengan Kiai Haji Hasyim Muzadi, mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Antrapolog dari Universitas North Florida Ronald Lukens-Bull bersaksi tentang sepenggal karya Hasyim untuk pendidikan di komunitas muslim. Karya itu kini menjadi peninggalan berharga tatkala Hasyim wafat di usia 72 tahun.

Hasyim mendirikan Pesantren Al-Hikam, Maret 1992, di Lowokwaru, Malang, Jawa Timur. Ia menggagas lembaga pendidikan setara perguruan tinggi karena terngiang penuturan guru-gurunya terdahulu.

Ronald Lukens-Bull, pada bukunya yang berjudul A Peaceful Jihad: Negotiating Identity and Modernity in Muslim Java (2005), menyebut Al-Hikam sebagai cara Hasyim memupuk santri dengan ilmu pengetahuan umum berbalut religi.

Hasyim, kata Ronald, menyebut ilmu pengetahuan kekinian tidak lagi mengajarkan moral bagi para pelajar. Akibatnya, sebagaimana diyakini Hasyim, masyarakat berkembang tak tentu arah.

Bagi Hasyim, Al-Hikam merupakan negoisasi antara tradisi, moderintas, dan identitas. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, seperti ditulis Ronald, memuji upaya Hasyim untuk pendidikan santri.

"Hasyim mungkin tidak ingat seluruh teks klasik keislaman, tapi dia memahami pokok, konteks, dan dasar ajaran tersebut," kata Gus Dur.

Sekitar 12 tahun setelah mendirikan Al-Hikam, Hasyim membentuk International Conference of Islamic Scholars (ICIS). Ia membangun lembaga itu bersama Hassan Wirajuda, diplomat yang pernah menjabat menteri luar negeri.

Niat Hasyim mendirikan ICIS didasari pada hubungan antara negara barat dan komunitas Islam pasca tragedi World Trade Center, 11 November 2001. Melalui lembaga ini, Hasyim menggelar dialog antaragama dan bertemu pimpinan kelompok agama lintas negara.

Terkait teror WTC, Hasyim yang saat itu baru saja menanggalkan jabatan ketua umum tanfidziyah (dewan pelaksana) NU menyatakan, lembaganya tidak akan merekrut umat untuk berjihad ke Afganistan, melawan tentara koalisi pimpinan Amerika Serikat.

Mantan Rektor Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra mengatakan, Hasyim yakin jihad tak melulu berkorelasi dengan perang suci.

Dalam buku Indonesia, Islam, and Democracy: Dynamics in a Global Context (2006) yang ditulisnya, Azyumardi menuturkan, Hasyim memandang jihad sebagai upaya mengembangkan ajaran dan nilai Islam serta menjaga umat dari perihal negatif.

"Serangan teror di Amerika Serikat adalah tragedi kemanusiaan, bukan tragedi keagamaan," tulis Azyumardi mengutip sikap Hasyim.

Tak hanya dikenang sebagai orang penting di Nadhlatul Ulama, Hasyim pun meninggalkan jejak di dunia politik. Tahun 2004, ia setuju mendampingi Megawati Soekarnoputri untuk maju ke pemilihan presiden secara langsung pertama dalam sejarah Indonesia.

Mega/Hasyim yang berupaya memunculkan citra nasionalis-islamis duduk di peringkat kedua pada putaran pertama pilpres periode itu. Mereka meraih 26,61 persen suara, berselisih sekitar tujuh persen dari Susilo Bambang Yudhoyono/Jusuf Kalla yang berada di peringkat pertama.

Hasyim urung menjadi wakil presiden karena ia dan Megawati hanya mendapatkan 39,38 persen suara di putara kedua pilpres tersebut.

Lepas dari hiruk-pikuk pilpres saat itu, Hasyim tak lagi bersinggungan dengan dunia politik. Tahun 2015, Hasyim pernah masuk daftar calon rais aam NU.

"Saya sudah lama di NU, sudah 50 tahun. Saya tahu itu, saya tidak pernah nyeletuk lisan saya meminta posisi rais aam," kata Hasyim kala itu. Hasyim akhirnya memang tak mendapatkan jabatan tersebut.(cnnindonesia/rt)

Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Tokoh" Index »