Kabut Asap atau Jual Tiket Tambahan?

Garuda Take off, Lion Delay

Dibaca: 95687 kali  Kamis, 03 September 2015 | 17:18:31 WIB
Garuda Take off, Lion Delay
Ket Foto : Kondisi kabut asap di kawasan bandara SSK II.(foto internet)

PEKANBARU-riautribune: Kru maskapai penerbangan Lion Air nampaknya mengambil langkah yang cukup mengejutkan, terkait penerbangan bernomor JT 393 tujuan Jakarta. Pesawat yang dijadwalkan berangkat pukul 06.25 WIB memilih delay, melihat kondisi kabut di kawasan bandara SSK II. Bahkan hingga pukul 09.00 pihak airline masih belum memberangkatkan penumpangnya, Kamis (3/9).

Berbeda halnya dengan Garuda dengan penerbangan pukul 7.00 WIB yang akhirnya bisa berangkat pada pukul 08.00 WIB. GA 178. menurut petugas bandara Wirza (22) meskipun cukup lama menunggu persiapan take off, akhirnya bisa mengudara. Kebijakan ini berbeda yang diambil maskapai Lion  Air. Judin (34) salah satu penumpang Lion Air, mengaku cukup terkejut dengan langkah yang diambil oleh maskapai Lion Air.

"Pengalaman saya, biasanya pilot Lion Air ini rata-rata teruji. Ketika pilot Garuda angkat tangan dalam hal landing, mereka justru lebih berani dan piawai. Tapi kali ini, dengan kondisi take off, di mana geografis Pekanbaru yang tidak banyak bukti. Para pilot Lion Air justru memilih untuk delay.ini cukup aneh," ucap Judin pegawai swasta di Pekanbaru.

Sementara itu Nazril (36) justru berpendapat lain, menurutnya, dengan fenomena yang cukup aneh ini, dia lebih menduga bahwa pihak Lion Air sengaja mengulur waktu untuk menambah jumlah penumpangnya, terutama tiket-tiket yang belum terjual. "Jika kondisi seperti ini saya justru curiga. Jangan-jangan kondisi delay ini dimanfaatkan untuk kembali menjual tiket, yah dari pada kosong kan. Apalagi untuk tamu VIP, harga tiket kan bisa tiga kalilipat'," ketus Nazril. (ops)

Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Fokus Riau" Index »

Rabu, 25 Maret 2020 - 17:48:59 WIB

PERSOALAN WABAH COVID-19 DAN GEOPOLITIK PEMERINTAH DAERAH

Perkembangan teknologi perhubungan telah meluaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, juga dalam perekonomian. Arus pergerakan orang, barang dan uang pun meningkat serta berimbas pada tuntutan pelonggaran pintu-pintu masuk ke suatu daerah. Kata-kata globalisasi, integrasi regional, infrastruktur hingga deregulasi menggambarkan kecenderungan tersebu