Masyarakat Desa Bagan Melibur

Politik Adu Domba PT. RAPP Melalui Program CD di Bagan Melibur

Dibaca: 74017 kali  Sabtu, 24 Desember 2016 | 22:41:19 WIB
Politik Adu Domba PT. RAPP Melalui Program CD di Bagan Melibur
Ket Foto : Rapat desa yang diadakan untuk menyikapi persoalan kegiatan RAPP di Desa Bagan Melibur itu, dihadiri oleh BPD,LKMD, Tokoh Masyarakat, RT, Kepala Dusun, dan pemuda.

PULAU PADANG - riautribune: 23 Desember 2016. Pagi yang cerah tanggal 22 Desember 2016 di Desa Bagan Melibur Kec. Merbau Pulau Padang Kabupaten Kepulauan Meranti terusik dengan kegaduhan di masyarakat yang kaget karena ada puluhan karyawan PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) bersama beberapa warga tiba-tiba memasang pagar di pemakaman tua nenek moyang masyarakat Desa Bagan Melibur yang terletak di Hulu Asam Kelurahan Teluk Belitung.

”Pagi hari kamis itu kami terkejut juga ketika mendapat informasi bahwa ada kegiatan RAPP dengan beberapa warga yang memasang pagar kuburan, kejadian itu kami perjelas ketika utusan masyarakat mendatangi lokasi pemakaman itu, ada puluhan karyawan RAPP yang sedang bekerja memotong kayu untuk pagar ada yang memaku dan menancapkan tiang pagar, selain itu ada beberapa warga, ketika ditanya mereka mengatakan sedang memasang pagar kuburan dengan bantuan dana dari PT. RAPP," sebut tokoh masyarakat, Sumarjan.

“Mendengar informasi itu bantuan dari RAPP kami meminta diadakan rapat di kantor desa ke Kepala Desa Bagan Melibur, karena ada kesepakatan sebelumnya oleh seluruh masyarakat Desa Bagan Melibur untuk tidak menerima bantuan dari RAPP apa lagi berbentuk uang, karena RAPP berkonflik dengan masyarakat tentang batas wilayah desa dan kebun masyarakat yang diserobot oleh RAPP, konflik itu sedang dalam proses Tim Badan Restorasi Gambut (BRG) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), hingga kini belum selesai”. tambah Sumarjan.

Sementara itu Maridi warga Bagan Melibur, mengatakan sebagian besar masyarakat yang sempat ikut kegiatan perusahaan diperkuburan itu tidak mengetahui bahwa itu ada bantuan dari RAPP, mereka tahunya gotong royong masyarakat, setelah mengetahui itu ada uangnya dari RAPP mereka pulang tidak mau ikut lagi.

“RAPP tidak boleh melakukan kegiatan apapun di desa kami, kan perusahaan ini sedang dihentikan operasionalnya oleh pemerintah, faktanya dilapangan mereka tetap menanam akasia, memasang patok-patok dikebun masyarakat dan juga menjalankan kegiatan yang mereka sebut program Community Development (CD), hal seperti ini mengadu domba dan membuat masyarakat terpecah belah, hubungan silaturahmi jadi tak bagus, yang masyarakat inginkan itu bukan program-program seperti bantuan ini, yang di inginkan adalah konflik dengan RAPP ini selesai, kebun-kebun kami yang sudah dirampas dan dihancurkan itu dikembalikan” tegas Maridi.

Sedangkan Kepala Desa Bagan Melibur Drs. Komari, didalam forum rapat desa bersama masyarakat dan tokoh-tokoh agama serta pemuda desa Bagan Melibur, menyampaikan ”saya tidak pernah mengizinkan dan menanda tangani proposal bantuan seperti itu dari RAPP, dan untuk menyelesaikan masalah ini kita adakan rapat desa”.

Dari hasil rapat desa yang diadakan untuk menyikapi persoalan kegiatan RAPP di Desa Bagan Melibur itu, dihadiri oleh BPD,LKMD, Tokoh Masyarakat, RT, Kepala Dusun, dan pemuda desa. Menyepakati untuk tetap melanjutkan pembersihan dan pemagaran pemakaman dengan bergotong royong masyarakat, menolak segala bentuk bantuan dari RAPP dan uang dari RAPP yang sudah terlanjur diterima oleh oknum warga sebesar RP. 10.400.000 itu dikembalikan ke RAPP. Hasil rapat desa ini tertuang di dalam berita acara rapat.(rls)
 

Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Pekanbaru" Index »