Gedung DPRD Gowa Dibakar

Dibaca: 42300 kali  Selasa, 27 September 2016 | 08:29:03 WIB
Gedung DPRD Gowa Dibakar
Ket Foto : foto tmpo

MAKASAR - riautribune : Demonstrasi yang dilakukan ratusan warga dari keluarga Kerajaan Gowa berakhir anarkistis. Massa merusak hingga membakar kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Gowa, yang terletak di Jalan Masjid Raya, Sungguminasa, Gowa, pada Senin siang, 26 September 2016.

"Kejadiannya sangat cepat. Massa datang dan langsung merusak," kata anggota Satuan Polisi Pamong Praja Gowa, Rais, 43 tahun, Senin, 26 September 2016.

Rais kebetulan mendapat giliran jaga di kantor DPRD Gowa saat massa datang berunjuk rasa. Dia mengatakan massa langsung merangsek masuk ke halaman kantor DPRD. "Mereka teriak-teriak dan mencari anggota dewan," ujarnya.

Tidak menemukan legislator yang dicari, massa langsung melempari pintu kaca gedung. Sebagian juga memecahkan kaca jendela. Setelah mendobrak pintu, massa lalu menyerbu masuk ke ruang sidang. "Semua staf dan pegawai berhamburan keluar," tutur Rais.

Rais melihat massa membawa botol berisi bensin. Sebagian juga menghunus parang dan menenteng balok. "Mereka membakar lantai 1 dan naik ke lantai 2, juga untuk membakar," ucapnya.

Api dengan cepat berkobar dan meludeskan ruangan-ruangan penting di kantor tersebut. Beberapa ruangan yang terbakar adalah ruang sidang paripurna, ruang rapat fraksi, ruang komisi, dan ruang unsur pimpinan dewan.

Sekretaris DPRD Gowa Yusuf Sampera tampak syok melihat gedung tersebut ludes terbakar. Dengan alasan itu pula dia menolak memberikan keterangan kepada wartawan. "Kami belum tahu apa-apa saja yang hangus. Saya belum masuk melihat," ujar Yusuf.(tmpo)
 

Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Nasional" Index »

Rabu, 25 Maret 2020 - 17:48:59 WIB

PERSOALAN WABAH COVID-19 DAN GEOPOLITIK PEMERINTAH DAERAH

Perkembangan teknologi perhubungan telah meluaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, juga dalam perekonomian. Arus pergerakan orang, barang dan uang pun meningkat serta berimbas pada tuntutan pelonggaran pintu-pintu masuk ke suatu daerah. Kata-kata globalisasi, integrasi regional, infrastruktur hingga deregulasi menggambarkan kecenderungan tersebu