Jangan Jadikan Serdadu Umpan Peluru

Dibaca: 65774 kali  Kamis, 25 Agustus 2016 | 08:45:54 WIB
Jangan Jadikan Serdadu Umpan Peluru
Ket Foto : foto okezone.com

PEKANBARU – riautribune :Kebakaran hutan dan lahan sudah 18 tahun berlangsung di Riau. Jika ada kebakaran, TNI dan polisi selalu jadi garda terdepan untuk memadamkan kebakaran. Sudah banyak korban berjatuhan akibat bencana tahunan ini.

Lima warga sipil tewas akibat menghirup udara beracun. Kebakaran hutan dan lahan juga memakan korban jiwa dari kalangan militer yang bertugas menjinakkan si jago merah yang ada di lahan gambut. Terakhir, kebakaran hutan merenggut nyawa Praka Wahyudi, anggota Detasmen Rudal 004 Kota Dumai, Riau.

Praka Wahyudi meninggal setelah berjibaku melawan kebakaran hutan di Kampung Medan Labuhan Tangga Kecamatan Bangko Kabupaten Rohil kurang lebih satu bulan. Namun, pada 18 Agustus 2016, pria lajang berusia 26 tahun ini hilang.

Pria asal Magetan ini tiba-tiba menghilang saat bersusah payah memadamkan kebakaran di hutan yang menurut warga sekitar dikenal angker. Ratusan tim Satgas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Riau menyisir lokasi.

Saat hari pertama menghilang, sempat terjadi komunikasi melalui telefon antara Praka Wahyudi dengan temannya sesama anggota TNI di lokasi. Saat itu, Praka Wahyudi mengaku berada di atas pohon besar dan membutuhkan pertolongan. Setelah dicari di pohon yang sebutkan, anggota TNI lainnya tidak menemukannya. Namun anehnya, Praka Wahyudi mendengar suara teman-temannya.

Pada 23 Agustus 2016, Praka Wahyudi ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Anehnya, jenazah Praka Wahyudi ditemukan di pohon besar yang sebelumnya disebut-sebut olehnya. Padahal, petugas gabungan sudah berulang kali menyisir lokasi tersebut.

Komandan Satgas Penanggulangan Kebakaran Hutan Riau, Edwar Sanger menyebut, Praka Wahyudi ditemukan di bawah pohon besar sekira 300 meter dari lokasi awal dia hilang. Saat ditemukan, Edwar mengatakan, ada luka bakar di tubuh korban. Tempat korban ditemukan juga tak jauh dari lokasi kebakaran.

Kematian Pratu Wahyudi menghadirkan duka mendalam bagi rekan-rekannya, terlebih pihak keluarga. Apalagi pada bulan depan, Wahyudi akan melangsungkan pernikahan dengan calon istrinya, Retno. Komandan Satgas Penanggulangan Kebakaran Hutan Riau, Brigjen TNI Nurendi menyatakan, TNI telah kehilangan prajurit terbaiknya yang gugur saat menjalankan tugas.

Penanganan bencana kabut asap yang merenggut anggota TNI bukan kali ini saja. Pada tahun lalu, Satgas Penanggulangan Kebakaran Hutan Riau kehilangan seorang anggota TNI.

Korban adalah Kopda Dadi Santoso dari kesatuan elite TNI AD, Kostrad. Korban yang saat itu bertugas melayani penderita sesak napas dan ISPA dianiaya oleh komplotan preman dengan cara ditabrak pakai mobil hingga tewas. Kejadian ini terjadi di belakang posko penanggulangan bencana asap di arael Purna MTQ Pekanbaru pada 26 Oktober 2015.

Akademisi sekaligus pengamat lingkungan Universitas Riau, Prof Adnan Kasri, menekakan perlu adanya evaluasi untuk standar keselamatan bagi petugas di lapangan dalam menjalankan tugas penanggulangan bencana kebakakaran hutan.

"Harus ada standar bagaimana prajurit di lapangan dibekali keselamatan dalam menjalankan tugasnya. Sejauh ini yang kita amati, petugas Satgas jauh dari standar pengamanan," ucap Adnan Kasri.

Berdasarkan informasi, meninggalnya Praka Wahyudi diperkirakan karena sesak napas akibat kehabisan oksigen saat pemadaman. Saat tugas, Praka Wahyudi tidak dibekali tabung oksigen. Padahal, saat kejadian asap sangat pekat.

"Pemerintah harus memberikan perhatian bagi keselamatan petugas penanggulangan. Mereka juga manusia biasa. Petugas di lapangan harus diberikan standar keselamatan, misalnya mereka didampingi petugas kesehatan selama melakukan operasi penanggulangan kebakaran. Mereka dibekali oksigen. Harus ada pembenahan agar tidak terjadi korban berikutnya," paparnya.(okz/rt)
 

Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Fokus Riau" Index »

Selasa, 04 Agustus 2020 - 13:15:56 WIB

Bambang:Perwako Jangan Mempersulit Masyarakat

PEKANBARU-riautribune: Perlu diingat, bahwa kewenangan pembentukan Peraturan Walikota (Perwako) adalah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi (dalam hal ini juga termasuk Perda). Secara hierarki, kedudukan Perda lebih tinggi dari Perwako. Demikian diungkapkan oleh Bambang H Rumnan., SH., MH selaku Koordinator Advokasi GMMK.