Dua Kali Kunjungi Universitas Riau

Prof M Nasir: “Akreditasi UR B Gemuk, Itu Membanggakan”

Dibaca: 84599 kali  Senin, 25 Juli 2016 | 07:31:08 WIB
Prof M Nasir: “Akreditasi UR B Gemuk, Itu Membanggakan”
Ket Foto : Dialog dan temu ramah bersama Menristek Dikti Prof. M Nasir.(riautribune.com)

PEKANBARU-riautribune: Kemenristek Dikti Prof. M Nasir memberikan statemen yang cukup membanggakan, dua kali berkunjung ke Universitas Riau (UR), dirinya menilai ada peningkatan kualitas akademik, salah satu indikatornya capaian akreditas institusi yang saat ini sudah bernilai B gemuk, artinya sudah bisa mengejar akreditas A, sebuah nilai yang harus dituju oleh setiap Universitas di Indonesia.

“Dengan adanya peningkatan akreditasi ini, dan juga menggenjot beberapa sektor, seperti kualifikasi tenaga pendidik, hingga jenjang Doktor, karya akademik untuk jurnal internasional, saya yakin Universitas Riau akan terus meningkatkan prestasinya hingga bisa meraih akreditasi A tadi,” ucap M Nasir kepada sejumlah wartawan usai menjadi narasumber di lantai 4 dialog dan temu ramah bersama Menristek Dikti Prof M Nasir, kemarin.

M Nasir juga menambahkan Kemenristekdikti telah membuat kebijakan pendampingan terhadap 12 perguruan tinggi negeri dan 60 perguruan tinggi swasta untuk segera meraih akreditasi A. “Misinya adalah supaya kualitas lulusan terus meningkat, berpotensi, dan siap menghadapi persaingan pada Masyarakat Ekonomi ASEAN,” ucap M Nasir.

Menristekdikti yang juga didampingi Rektor UR Prof. Aras Mulyadi menuturkan saat ini Kementeriannya juga mengalokasikan sekitar 2300 beasiswa untuk pendidikan doktor bagi dosen, sebagai  perhatian dalam membenahi kualifikasi tenaga pendidik. Jumlah itu, menurut Nasir juga akan terus bertambah, dengan adanya kuota dari Taiwan, peluang besiswa doktor untuk dosen, dan sebanyak 250 beasiswa lagi dari Pemerintah Arab Saudi.

“Peluangnya sudah ada, jadi tunggu apalagi. Ini saatnya dosen-dosen  di Indonesia untuk mau meningkatkan strata pendidikan,” ujarnya. Sementara itu pesan Kemenristekdikti, doktor yang telah berstrata doktor harusnya berkontribusi untuk meningkatkan prestasi Universitas, melalui penelitian, jurnal internasional dan lain-lain.

“Khusus untuk dana penelitian Kemenristekdikti juga mulai mengubah kebijakan. Kami melihat fenomena. banyak peneliti merasa kesulitan menyusun laporan pertanggung jawaban. Imbasnya, banyak peneliti lebih terfokus menyiapkan laporan, disini kami mengubah pola. Bahwa Kami,  mendorong pertanggungjawaban penelitian berbasis output, bukan proses. Hal ini sudah disetujui oleh Kementerian Keuangan tanggal 30 Juni lalu, dan telah diterbitkan SK Kemenkeu-nya,” ucap M Nasir.

Kemenristekdikti juga berharap, dari penelitian akademik, royalti dari hak kekayaan intelektualnya juga bisa diterima oleh Inovator. Informasi lainnya yang sempat di dedahkan oleh Kemenristekdikti, bahwa kedepan perguruan tinggi tidak ada lagi guru besar Emeritus, dan pihak swasta yang mau menjadi dosen bisa mengajukan nomor induk Dosen dan Kepegawaian atau NIDK.

Disisi lain, informasi untuk kalangan mahasiswa, tahun ini Kemenristedikti telah membuat kebijakan meningkatkan alokasi beasiswa bidikmisi, jika sebelumnya hanya Rp60ribu, tahun ini ditingkatkan menjadi Rp75ribu per bulan. Dan khusus untuk biaya hidup saat ini tengah dirancang, agar ada peningkatan, jika sebelumnya hanya Rp600ribu maka nantinya diusulkan menjadi Rp1juta.

Sementara itu Rektor UR Prof Aras menuturkan institusinya terus mendorong dosen untuk terus meningkatkan strata pendidikan doktor. “Tadi bapak menyebutkan, cukup banyak peluang beasiswanya, memang ada kendala klasik yakni persoalan kemampuan bahasa asing, namun UR telah menyiapkan sejumlah langkah, seperti mengirimkan dosen untuk mengikuti kursus bahasa di beberapa perguruan tinggi di luar Riau. Jadi Dosen yang akan mengambil beasiswa ke luar negeri, bisa lebih fokus, dan siap dalam sisi kompetensi bahasa,” ucap Prof Aras Mulyadi DEA.

Sementara itu diakhir wawancara Menristekdikti memesankan, agar fenomena plagiat, harus menjadi perhatian khusus. “palgiat itu dosa terbesar dalam dunia akademik, tidak ada dispensasinya, jika ketahuan beri tindakan tegas, Kementerian pun tidak akan tebang pilih. Dan menurut kami, hal inilah yang akan mencemarkan dunia pendidikan.” ucap M Nasir.(ehm)

Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Pekanbaru" Index »