IDAI Pastikan Vaksin Palsu Tak Memiliki Bahaya Langsung

Dibaca: 42684 kali  Selasa, 12 Juli 2016 | 15:49:19 WIB
IDAI Pastikan Vaksin Palsu Tak Memiliki Bahaya Langsung
Ket Foto : illustrasi internet

JAKARTA-riautribune :Sekretaris Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso memastikan vaksin palsu yang diberikan kepada anak tidak menimbulkan dampak yang berbahaya.

“Terkait dengan dampak vaksin, dampak langsung berbahaya, tidak ada laporannya,” kata Basarah di Kementerian Kesehatan, Selasa, 12 Juli 2016.

Basarah pun menyebutkan konten vaksin juga tidak menimbulkan dampak berbahaya. Isi vaksin palsu yang ditemukan, misalnya, hanya berisi perangsang imun (antigen) dan natrium klorida (NaCl). Selain itu, vaksin yang berlabel tidak sesuai dengan isinya.

Basarah mengimbau masyarakat tidak resah mendengar kabar beredarnya vaksin palsu. Meski demikian, masalah utama dari pemberian vaksin palsu adalah anak tidak mendapatkan vaksinansi yang sesuai dengan kebutuhan. Ia meminta agar anak yang terbukti mendapatkan vaksin palsu dilakukan vaksin ulang.

Menurut Basarah, anak-anak yang sudah berusia 5 tahun bisa mengikuti program Bulan Imunisasi Anak Nasional (Bias). Sedangkan bagi anak berusia 5 tahun ke bawah akan diberi vaksin ulang sesuai dengan pedoman vaksinansi apabila terbukti mendapatkan vaksin palsu.

Direktur Pengawasan Distribusi Obat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Arustiono mengatakan pihaknya telah menelusuri dugaan adanya vaksin palsu di sembilan provinsi di Indonesia. Ia mengatakan ada 39 sampel jenis vaksin yang diambil dari 37 titik fasilitas layanan kesehatan yang tersebar di Pekanbaru, Palembang, Bandar Lampung, Serang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Pangkal Pinang, dan Batam. “Sampel yang kami ambil representatif,” tuturnya.

Menurut Arustiono, dalam pengujian 39 jenis sampel, hanya ditemukan empat sampel yang terbukti vaksin palsu. Ia menjelaskan, sampel-sampel yang terbukti palsu itu adalah vaksin yang hanya mengandung natrium klorida (NaCL) atau garam. Selain itu, ada vaksin yang di dalamnya hanya berupa antigen atau perangsang respons kekebalan tubuh.(tmpo/rt)
 

Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Nasional" Index »

Rabu, 19 September 2018 - 11:04:12 WIB

Legislator Pertanyakan Dasar Penyusunan RUU Kerja Sama Pertahanan Luar Negeri

Anggota Komisi I DPR RI Supiadin Aries Saputra mempertanyakan peran Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara yang tidak dimasukkan sebagai dasar penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kerja Sama Luar Negeri Bidang Pertahanan, khususnya dalam pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) RUU Kerja Sama antara Indonesia dengan Arab Saudi dan Belanda di Bidang Pertahanan.