"Setelan Pas" Daihatsu buat Calya dan Sigra

Dibaca: 53962 kali  Kamis, 30 Juni 2016 | 04:36:11 WIB

Ket Foto : Toyota Calya.(internet)

BILA diamati, Daihatsu di Indonesia selalu bergerak rasional. Sebagian besar produk yang dijual selalu diusahakan dirakit secara lokal dengan rencana volume produksi yang masuk hitungan masuk akal. Langkah ini bukan hanya untuk menghidupi Daihatsu, melainkan juga Toyota.

Mobil kembar pertama dari keduanya yang dijual di Indonesia adalah Daihatsu Charmant dan Toyota Corolla. Model-model itu sudah diproduksi secara lokal tetapi bukan hasil kolaborasi langsung Daihatsu dan Toyota di Indonesia.

Baru pada 2004, kerja sama keduanya menghasilkan Daihatsu Xenia dan Toyota Avanza, kemudian pada 2007 diikuti Daihatsu Terios –Toyota Rush serta Daihatsu Gran Max–Toyota Town Ace/Lite Ace, dan lantas pada 2013 Daihatsu Ayla-Toyota Agya lahir.

Sebentar lagi kerja sama berlanjut ke model kelima, Daihatsu Sigra dan Toyota Calya. Informasi soal rencana Daihatsu-Toyota menambah produk di segmen low cost green car (LCGC) setelah Ayla-Agya sebenarnya sudah lama terdeteksi. Namun, setelah foto penampakan MPV 7-penumpang Calya bocor, barulah semuanya semakin jelas.

Belum ada satu pun dari pihak Astra Daihatsu Motor (ADM) ataupun Toyota Astra Motor yang mau membicarakan model itu tanpa perlu ditutupi identitasnya. Saat KompasOtomotif bertemu Rudy Ardiman, Division Head Corporate Planning ADM, dia juga selalu mengelak ketika ditanya tentang produk, tetapi mau membahas pasar MPV 7-penumpang kelas LCGC.

"Pasar LCGC 7-seater? Kemungkinan ada segmen itu, kami belum tahu. Namun, kalau ada model baru, pasti akan memperkaya pasar, kemungkinan berkembang," kata Rudy.

Rudy bilang, ADM selalu memilih bermain di pasar besar, misalnya seperti yang selama ini sudah dilakukan pada low MPV dan LCGC. Secara implisit, Rudy menjelaskan, bila ADM memutuskan mau meluncurkan produk baru, kendaraan tersebut jelas harus dirakit secara lokal dan wajib laku karena segmen yang diincar pasti "kue" besar.

Atas alasan itulah, Daihatsu sekarang tidak punya produk sedan. Selain itu, hanya Sirion dan Copen yang merupakan produk impor. Hitung-hitungan produksi lokal bukan cuma harus laku berapa, tetapi juga memperkirakan investasi dan pada akhirnya menetapkan harga jual.

"Produk-produk kami fit di Indonesia. Jadi, kami buat untuk Indonesia. Kalau ekspornya, ya nanti visibilitasnya seperti apa. Perkiraan kami, waktu mengeluarkan produk pasti punya volume tertentu. Makanya kami 'market in' Indonesia," ucap Rudy.

"Daihatsu tidak jual barang murah, tetapi pas. 'Setel pas' itu yang sulit," katanya lagi.(kpc/rt)

Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Ekonomi" Index »