Pertamax Plus di Negri Tetangga Lebih Murah

Dibaca: 53389 kali  Selasa, 02 Februari 2016 | 07:48:50 WIB
Pertamax Plus di Negri Tetangga Lebih Murah
Ket Foto : Foto Internet

JAKARTA-riautribune: Anjloknya harga minyak dunia dimanfaatkan betul oleh Malaysia untuk memberikan bensin murah bagi rakyatnya. Per hari ini, Malaysia menurunkan harga jual bensin RON95 menjadi 1,75 ringgit atau setara Rp 5.600 per liter dan diesel menjadi 1,35 ringgit atau setara Rp 4.320 per liter.  

Jika dibandingkan dengan harga yang berlaku di Indonesia, sangat jauh berbeda. RON95 adalah jenis bensin yang setara dengan pertamax plus di Indonesia. Tapi, Malaysia mampu menjual lebih murah dari premium dengan RON88 yang dijual Pertamina dengan harga Rp 7.050 per liter. Dengan pertamax yang memiliki RON92, perbandingannya semakin jauh. Pertamax dijual Pertamanina Rp 8.350 per liter. Apalagi dengan pertamax plus yang masih dijual Rp 9.250 per liter.

Untuk diesel, setara dengan solar di Indonesia. Ternyata, harganya juga jauh lebih murah. Hari ini, Pertamina menjual solar Rp 5.650 per liter.

Jauhnya perbedaan harga BBM antara Indonesia dan Malaysia ini sangat disayangkan anggota Komisi VII DPR Kardaya Warnika. "Apakah pemerintah mengharapkan Pertamina dapat duit besar dengan menjual BBM mahal di saat harga minyak dunia turun,” ucapnya.

Karena itu, Kardaya mendorong pemerintah untuk kembali mengevaluasi harga jual BBM yang ditetapkan pemerintah pada 5 Januari lalu. Pemerintah tidak perlu menunggu sampai Maret untuk mengevaluasi harga itu. Kalau RON95 di Malaysia hanya dijual Rp 5.600, harusnya premiun di kita bisa lebih murah dari itu,” katanya.

Manurut Kardaya, penurunan harga BBM sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Jika harga jual BBM murah, biaya produksi akan turun dan daya beli masyarakat akan meningkat. Dengan begitu, ekonomi akan lebih bergerak. Tapi, jika harga BBM tetap mahal, Indonesia akan ketinggalan negara-negara lain. Apalagi, saat ini Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kalau BBM dan harga energi lain masih mahal, investor tidak akan mau masuk Indonesia.

"Karena itu, lebih baik diturunkan. Jangan pemerintah memberi untung Pertamina aja, tapi lebih bagus lebih memperhatikan kegiatan ekonomi. Itu manfaatnya lebih besar ke negara," jelas politisi Gerindra ini.(rmol/rt)

Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Ekonomi" Index »

Rabu, 19 September 2018 - 11:04:12 WIB

Legislator Pertanyakan Dasar Penyusunan RUU Kerja Sama Pertahanan Luar Negeri

Anggota Komisi I DPR RI Supiadin Aries Saputra mempertanyakan peran Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara yang tidak dimasukkan sebagai dasar penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kerja Sama Luar Negeri Bidang Pertahanan, khususnya dalam pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) RUU Kerja Sama antara Indonesia dengan Arab Saudi dan Belanda di Bidang Pertahanan.