Jangan Terkecoh Dengan Istilah

Dibaca: 22670 kali  Jumat, 19 Februari 2021 | 15:19:55 WIB
Jangan Terkecoh Dengan Istilah
Ket Foto : Pengamat Politik Hukum, Bambang H Rumnan, SH.MH

PEKANBARU - riautribune : Berbicara mengenai demokrasi artinya kita sedang memperbincangkan tentang sistem manajemen (pengelolaan) kekuasaan selaku obyek, apakah itu organisasi (negara), kelompok maupun komunitas yang pelaku utamanya adalah kita sebagai subyek.

 

Sebagaimana yang di sampaikan oleh para ahli melalui berbagai referensi dan literatur seperti Montesquieu, John Locke, J. J. Rousseau dan lain-lain sebagainya, tak satupun teori tersebut di implementasikan dalam suatu negara di dunia yang ada saat ini. Masing-masing negara mengelola dengan caranya sendiri. Untuk itu jangan terkecoh oleh propaganda menyesatkan, sehingga umat meninggalkan siyasah, tanpa sebab mendasar.

 

Demokrasi adalah aturan orang (people rule) dan setiap subyek mempunyai tujuan yakni kesepakatan (hukum). Tujuan sebuah Negara adalah menuju kemaslahatan umat manusia melalui rule yang melandasinya. Pada umumnya, tujuan Negara ditetapkan dalam konstitusi atau hukum (rule of law).

 

Demokrasi adalah sistem, yang pelaku/managerialnya adalah kekuasaan. Karenanya pelakulah yang mengendalikan dan berperanan menjalankan seluruh instrumen sistem. Sistem dapat diartikan sebagai suatu kumpulan, himpunan, unsur, komponen, variable, terorganisir, berinteraksi dan terpadu.

 

Jika sistem sebagaimana di maksud itu di kelola dan di kendalikan oleh kekuatan dan kekuasaan Islam, orang-orang beriman dan baik, maka demokrasi akan tunduk sesuai kehendak sebagaimana yang di inginkan para pengelolanya, begitu pun sebaliknya.

 

Tidak perlu terjebak dengan istilah, karena demokrasi hanya sebuah sebutan istilah dalam sistem pengelolaan organisasi/Negara. Tentang bagaimana cara mengisi perangkat sistem tersebut, justru hal ini yang menjadi kewajiban dan dakwah.

 

Semua bergantung para pengelola dalam menjalankan kesepakatan perjalanan suatu negara. Tinggal pengelola mau menerapkan kesepakatan/hukumnya seperti apa dan bagaimana. Pengelola adalah penguasanya;

 

Apa pun sistemnya, jika pengelola suatu Negara itu jahat/jahil, maka lahirlah penindasan demi penindasan yang diterima masyarakat. Sebaliknya, jika pengelola suatu Negara itu diisi oleh orang-orang cerdas, memiliki keimanan dan berintegritas, pasti lahir sebuah Negara sebagaimana yang di harapkan bersama yakni baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

 

Pemahaman dan pandangan tentang sistem tersebutlah yang perlu di rekonstruksi ulang, dimana blundernya peristiwa istilah inilah yang justru melemahkan komponen-komponen keumatan. Jika ingin berbuat kebaikan, tidak perlu menundanya, lakukan hari ini, esok dan seterusnya.

 

Bumi dan alam semesta ini sangat luas, seluas kehidupan dan penghidupan itu sendiri untuk menebar kebaikan. Kendalikan sistem agar tarbiyah siyasiah berada di genggaman kita sehingga bisa menjalankannya secara menyeluruh dan komprehenshif (kaffah).

 

Berkuasa untuk melayani umat, dan memimpin untuk mengambil alih sistem yang tidak berpihak kepada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Hal ini adalah bagian dari pada dakwah yang menjadi priority utama dalam memperjuangkannya.

 

Siyasah adalah dakwah yang penjabaran, penerjemahan dan pelaksanaannya dalam kehidupan termasuk di dalamnya politik, ekonomi, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, kesenian, kekeluargaan dan lain-lain sejenisnya. Dakwah itu adalah menyeru dengan satu tujuan yakni mendorong kehidupan melaksanakan cita-cita tertentu (kemuliaan).

 

Demokrasi sebagai sebuah sistem tidak menjelaskan bagaimana bentuknya. Tentu saja sesuai keinginan para pengelolanya. Sehingga demokrasi sebagai suatu sistem bisa diambil alih oleh Islam. Dengan demikian prinsip politik yang dibawa oleh demokrasi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip siyasah Islam, karena karakter dan bentuknya disesuaikan akan keinginanan para pengelola. Bahkan Erdogan lahir dari produk demokrasi sebagaimana kemenangan Partai Refah yang agamis pada tahun 1997, dan berkuasanya Erdogan sejak tahun 2004 hingga kini.


 
Tidak perlu alergi dengan istilah demokrasi, apakah orang Islam tidak diperbolehkan untuk memainkannya! Sangat boleh apa lagi terkait krisisnya situasi Islam hari ini, tentu kita harus mengambil langkah-langkah taktis dan strategis. Sistem apapun sepanjang di kendalikan dan di laksanakan oleh manusia, Umat Islam dapat menghadirkan kemaslahatan atau kebaikan nilai-nilai Islam.

 

Dengan demikian apakah sepantasnya kita mengabaikan kepentingan Umat dan membiarkan kezhaliman terus berlanjut! Demokrasi dapat dijadikan sarana untuk mengambil alih kepemimpinan agar bisa menjadi pengendali dan menyajikan cita-cita Kita secara kaffah.

 

Demokrasi hanyalah sarana, bahkan erdogan mengatakan bahwa demokrasi itu adalah senjata yang dibuat oleh orang-orang barat, akan tetapi sistem tersebut sesungguhnya tidak memiliki bentuk secara spesific, tergantung penggunanya. Sehingga Erdogan memanfaatkan sistem tersebut untuk mengambil alih kekuasaan dan hak-hak Islam. Dan sekarang coba lihatlah Turki di bawah kepemimpinan Erdogan, ekonominya meingkat tajam, nilai-nilai islam kembali dikuatkan, pemerintahannya tidak lagi sekuler, dan Islam di Turki sedang dalam masa kejayaan. Bahkan tak lama lagi Erdogan akan mengubah kesepakatan Negaranya secara kaffah.

 

Sekecil apa pun nilai kebaikan itu pasti akan di balas oleh Allah Fa may ya’mal misqala zarratin khairay yarah. Jadi bersikap bijaklah dalam memahami demokrasi, karena saat ini satu-satunya cara untuk mengambil alih kepemimpian hanya dengan demokrasi, maka manfaatkanlah sistem tersebut. Bagaimanapun juga kita dilarang membiarkan dan menjadi penonton kemungkaran dan penindasan yang terjadi dimuka bumi ini, kita berkewajiban mencegah dan berjuang menegakkan keadilan. Wallahualambissawab;

 

Penulis: Bambang H Rumnan, SH.MH

Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Fokus Riau" Index »