Mahathir Mohamad Mundur Sebagai PM Malaysia

Dibaca: 16583 kali  Senin, 24 Februari 2020 | 15:16:47 WIB
Mahathir Mohamad Mundur Sebagai PM Malaysia
Ket Foto : Perdana Menteri Malaysia Tun Dr Mahathir Mohamad

KUALA LUMPUR -- riautribune : Perdana Menteri Malaysia Tun Dr Mahathir Mohamad mengundurkan diri, Senin (24/2). Dia telah menjabat posisi tersebut selama dua periode pemerintahan Malaysia.


Dengan surat pengunduran dirinya, Mahathir Mohamad menjadi perdana menteri terlama sekaligus yang terpendek dalam periode kepemiminan Malaysia. Pada periode pertama, Tun memimpin berada di bawah Barisan Nasional (BN) dengan masa jabatan selama 22 tahun atau lima periode. Dia pemimpin Malaysia antara 16 Juli 1981 hingga 31 Oktober 2003 dalam usia 78 tahun.


Di periode kedua, Mahathir kembali menjabat dengan dukungan koalisi Pakatan Harapan pada pemilihan umum 9 Mei 2018 dalam usia 92 tahun. Jabatan ini kembali ke tangannya setelah jeda hingga 15 tahun pensiun dari dunia politik. Pengunduran diri Mahathir ini terjadi sebelum tiga bulan peringatan menjabat untuk tahun keduanya. Keputusan tersebut pun terjadi setelah desas-desus koalisi akan kehilangan kekuasaan federal, bahkan sebelum dia menyelesaikan masa jabatan pertamanya.


Dikutip dari Malay Mail, selama dua hari muncul spekulasi kuat kalau partai politik yang dipimpinnya Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM) keluar dari koalisi Pakatan Harapan. Mereka berniat membentuk pemerintahan baru dengan mitra koalisi baru. Pada waktu yang hampir bersamaan berita pengunduran Mahathir Mohamad muncul, PPBM juga mengumumkan telah memutuskan menarik diri dari koalisi Pakat Harapan sejak Ahad (23/2).(rep)

 
Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Nasional" Index »

Rabu, 25 Maret 2020 - 17:48:59 WIB

PERSOALAN WABAH COVID-19 DAN GEOPOLITIK PEMERINTAH DAERAH

Perkembangan teknologi perhubungan telah meluaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, juga dalam perekonomian. Arus pergerakan orang, barang dan uang pun meningkat serta berimbas pada tuntutan pelonggaran pintu-pintu masuk ke suatu daerah. Kata-kata globalisasi, integrasi regional, infrastruktur hingga deregulasi menggambarkan kecenderungan tersebu