Cerita Dibalik Forpompa Warga Sungai Pakning

Fajar: “Mereka Memantau Api, Sambil Memantau Tanaman Nenas”

Dibaca: 25563 kali  Senin, 14 Oktober 2019 | 07:54:18 WIB
Fajar: “Mereka Memantau Api, Sambil Memantau Tanaman Nenas”
Ket Foto : Fajar Basuki Mendengarkan Penjelasan Gubri bersama Pak Samsul pengelola Arboretum

PEKANBARU-riautribune: Kesedihan, rasa putus asa dikelilingi oleh merahnya Api dan Kabut pekat asap bekar terbakarnya Gambut di Sungai Pakning, masih terbayang-bayang oleh Warga, terutama masyarakat Kampung Jawa yang kini telah bahu membahu menata Arboretum Gambut. Siapa sangka, Samsul yang sehari-hari dulunya adalah warga tempatan yang bekerja menangkap burung dihutan Gambut Sungai Pakning, tergerak hatinya untuk tidak lagi cuai terhadap titik api.

  “Dulu berhari-hari hingga berjam-jam bapak-bapak ini ada di hutan gambut ini, memadamkan titik api. Rasa takut tidak padamnya api, udara yang sudah bercampur racun setiap saat menghantui mereka dan warga sekitar. Tidak ada hal yang bisa membuat mereka yakin, api akan padam, karena lingkungan rumah sudah memerah, dan udara pagi bercampur asap. Ada rasa sedih, putus asa yang selalu melingkupi mereka setiap hari. Bahkan kenangan itu masih teringat sampai sekarang saat mereka menceritakan kembali kepada kami-kami, itulah kami semua sepakat mematrikan niat, agar jangan ada lagi luput mata dan perhatian kami, dari sumber api yang akan mengancam gambut,”Ucap Fajar Basuki Manager Production Pertamina Refinery Unit II Sungai Pakning

   Dari Pengalaman itu, dan arahan pemerintah, warga pun membentuk Masyarakat Peduli Api. Tetapi warga paham, kepedulian ini tidak bisa bergantung kepada pemerintah belaka, anggaran yang disiapkan desa  tak akan mampu menanggung segala sesuatu yang terjadi dilapangan.

  “Kami punya lahan, dan kami memiliki tempat bertanya dan diskusi, melalui binaan tim pertamina, disinilah kemudian tercetus ide, bagaimana hasil tanam di Kebun Gambut ini, juga disisihkan sebagian untuk aktifitas MPA yang telah berbobah menjadi Forpompa Forum Komunikasi masyarakat peduli api atau tim Pompa. Hasil kebun inilah yang nantinya memberikan subsidi terhadap apapun kebutuhan ketika suata saat ada kejadian yang tidak kita inginkan,”Ucap Samsul menjelaskan upaya mereka dalam menjaga Gambut

    Dikatakannya Forpompa bukan hanya bertugas, saat titik api muncul, atau ada lahan terbakar, tetapii juga bagaimana mengantisipasi sejak dini, sekaligus memantau hama yang mengancam tanaman-tanaman mereka

   “Mengantisipasi api sejak dini, yah dengan memantau, patroli setiap waktu. Nah, kami coba kreasikan itu dengan cara sambil melihat beberapa tanaman yang kini kami kembangkan, seperti nenas, sayur, dan beberapa tanaman produktif lainnya. Kami pantau, agar tidak dimakan hama seperti babi hutan, sambil memantau inilah kadang kita bisa lihat, apakah ada yang membakar, ataupun ada perambatan api karena hal lainnya. Jadi seperti itulah kami kemudian memantau lingkungan, dan membangun komunikasi dengan Forpompa, dan tetap kreatif menanam demi mensupport tim Forpompa,”Ucap Samsul dan Sodikin sambil menceritakan bagaimana kemudian mereka membangun komunikasi dengan Pertamina yang telah membimbing mereka.

   Fajar Basuki Manager Production Pertamina Refinery Unit II Sungai Pakning kepada Riautribune disela-sela kunjungan Gubernur Riau menuturkan, disamping bantuan biaya, Pertamina juga membantu pembinaan sistem dan manjerial MPA dengan menerapkan tata kelola usaha yang baik.

  “Kami mendorong improvement yang berkelanjutan melalui Road-map menuju Badan Usaha yang Mandiri. Sehingga inovasi peningkatan ekonomi yg ramah lingkungan selalu muncul. Aktifitas memantau api, bisa diselinggi dengan melihat perkembangan tanaman mereka,”Ujar Fajar

   Ditambahkannya,melalui pendampingan yang dilakukan bekerjasama dengan akademisi dari beberapa Universitas, diharapkan terjadi percepatan perubahan mindset menjadi MPA- Preneurship yang mandiri secara ekonomi sekaligus peduli dengan Lingkungan yang tercermin salah satunya dari kegiatan pengawasan lingkungan potensi KARHUTLA

  “Kami juga menggagas pemahaman tentang Gambut juga sudah diinisiasi melalui Program pendidikan dengan kurikulum ber-konten gambut. Diharapkan akan muncul " Generasi Emas",yang peduli terhadap kelestarian gambut dan lingkungan sekitar. Jadi, gambut bukan menjadi sumber masalah, akan tetapi berkah’Ucap nya.(dnk)

 

Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Fokus Riau" Index »