Belajar Dari Gambut, Ada Kearifan Lokal

Dibaca: 27608 kali  Ahad, 06 Oktober 2019 | 11:29:32 WIB
Belajar Dari Gambut, Ada Kearifan Lokal
Ket Foto : Fajar melihat kondisi Arboretum

PEKANBARU-riautribune: Gambut tak diperlu ditakuti, tetapi dipelajari sifatnya, ternyata banyak kearifan lokal yang bisa kita pelajari. Demikian ilustrasi kalimat yang tersampaikan saat kita berkunjung ke lokasi Arboretum Gambut Marsawa di kelurahan Sungai Pakning Kecamatan Bukit Batu.

  Menurut Samsul (43) warga yang sehari-hari beraktifitas di kawasan Arboretum Marsawa, mereka juga banyak belajar dari kondisi geografis lahan gambut sekitar. Seperti halnya saat mereka banyak menggelar beberapa aktifitas, seperti sekolah alam, wisata alam, lokasi out bon.
  "Kami harus membuat sumber air agar aktifitas disini berjalan baik, seperti untuk berwudhu, mencuci dan membasahi beberapa areal.
 "Awalnya kami menyangka bisa melakukan metode sederhana, tetapi dengan upaya mencoba-coba, metusukkan satu pipa paralon ukuran 6 meter, istilah bahasa warga tempatan "Mencacak", alhamdulillah air dengan sangar deras keluar, air memang agak sedikit berwarna, tetapi bersih, tidak asin, bahkan seperti air biasa jika dipakai untuk kumur-kumur. Inilah yang membuat kami terkesima, artinya tak perlu lagi mencari air jauh-jauh, bahkan jika ada lahan yang terbakar tak jauh dari lokasi Arbeoretum ini, kami tinggal menyambungkan pipa atau selang saja,"Ucap samsul yang menyambut kunjungan wartawan riautribune di Arboretum bersama dengan Fajar Basuki Manager Production Pertamina Refinery Unit II Sungai Pakning, Kemarin.
  Samsul pun menuturkan, jika metode ini ditiru, sebenarnya tidak sulit harus membuat sekat kanal, karena untuk kawasan gambut basah, ketersedia airnya sangat berlimpah, tinggal lagi bagaimana metode menjangkaunya.
  "Dahulu kebanyakkan warga menggunakan bambu, dengan rongga bambu yang ditancapkan kelahan gambut itulah nantinya air keluar,'terangnya.
 Kepada RiauTribune, Fajar juga menuturkan bahwa diawal dirinya menapakkan kaki di lahan Gambut ini, memang sedikit agak terasa berbeda, tanahnya terasa bergerak, tapi itulah karakter gambut yang kita rasakan cukup unik.
  "Beberapa hal inilah yang kemudian kita sodorkan kepada siswa didik, melalui kurikulum muatan lokal, tentang karakter gambut, kita ingin mereka sebagai generasi penerus, bisa tetap terus menjaga dan melestarikannya. Bahkan beberapa tanaman yang ditanam dan dijaga dengan baik, bisa menghasilkan ekonomi produktif, seperti lahan nenas tadi, jambu, dan beberapa sayuran lainnya,"Ucap Fajar.
  Kini Tak jauh dari lahan yang telah disulap sebagai Arboretum ini, turun membantu bergeraknya sebuah Koperasi. Koperasi Tunas Makmur, yang diurus oleh warga sekitar, seperti Pak samsul dan pak sadikin, melahirkan produk turunan nenas, seperti Sirup perisa nenas, kripik nenas, hingga dodol nenas.
  "Saya merasa sangat beruntung, bertemu dengan heroes lokal seperti Pak Samsul dan pak Sadikin, peduli dengan lingkungan sekitar, tetap produktif, dan tidak putus asa saat menghadapi bencana asap yang pernah mendera kami dulu. Bangkit, untuk tetap terus menjaga lingkungan ternyata tetap melahirkan asa, dan harapan agar anak-anak cucu dan generasi penerus bisa tetap mengenal Gambut,"Ucap Fajar Basuki.(Rnl)

Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Pojok Usaha" Index »