Perusahaan Sawit Habiskan 2,7juta USD Per tahun untuk Konflik 9ribu Ha Lahan

Dibaca: 49165 kali  Jumat, 01 Februari 2019 | 14:30:49 WIB
Perusahaan Sawit Habiskan 2,7juta USD Per tahun untuk Konflik 9ribu Ha Lahan
Ket Foto :

PEKANBARU-riautribune: Sisi yang cukup fenomenal dalam konflik Sawit di Indonesia, menurut Scale Up berdasarkan data REI bahwa sebuah perusahaan perkebuhan rata-rata mengeluarkan biaya 2,7 USD untuk menyelesaikan konflik lahan setara 9ribu hektar atau setara dengan kurang lebih 300Milyar Rupiah.
  Angka yang cukup Fantastis ini dikatakan peneliti Scale Up Riau Irfan Misauri, jumlah yang tidak sedikit yang harus dihabiskan dalam menyelesaikan konflik baik itu warga yang terkena ibas, mulai dari korban yang jatuh dari bentrokkan, biaya mediasi, bahkan biaya dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh proses operasional perusahaan.
 
  "Biaya ini menjadi salah satu item yang dihitung oleh perusahaan, yang kemudian mereka akumulasikan sebagai sebuah beban. Logikanya, jika uang yang begitu besar terbuang percuma. Akan lebih bermanfaat, jika dioptimalkan untuk menjawab persoalan-persoalan sosial ditengah masyarakat, tentu akan sangat terbantu sekali, itulah makanya kami berfikir saatnya hadir sebuah resolusi atas konflik yang muncul, secara transparasi dan akuntabel,"Ucap Irfan.

   Dalam agenda policy sejumlah peneliti Scale Up bersama wartawan Riau di jalan Kenari disebutkan bahwa berdasarkan data media, selama tiga tahun terakhir tercatat sebanyak 185 kasus konflik lahan di Riau, dimana jumlah konflik tertinggi adalah di Kabupaten Pelalawan.
  "Beberapa hal yang kami temukan juga cukup aneh, yakni analisa kami yang melihat tingginya konflik berbanding lurus dengan jumlah lahan perkebunan yang paling luas. Di Riau jumlah kebun terluas berada di kabupaten Rokanhulu, namun dalam 1 tahun terakhir ini konflik tidak begitu mencuat dalam beberapa pemberitaan media masa. Karena memang dasar penelitian awal kami adalah media, makanya berdasarkan berita yang muncul dan peristiwa yang terrekam jumlahnya tidak begitu banyak. Berbeda dengan Kabupaten Pelalawan, konstalasi konfliknya kian meningggi. Ini menjadi perhatian kami, dan perlu memperdalam kondisi yang ada,"ucap Irfan

 

 

Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Fokus Riau" Index »