Balada Ustaz Gaul Evie Effendi yang Dipolisikan karena Ceramahnya

Dibaca: 11826 kali  Selasa, 14 Agustus 2018 | 11:03:44 WIB
Balada Ustaz Gaul Evie Effendi yang Dipolisikan karena Ceramahnya
Ket Foto :

BANDUNG - Evie Effendi terpaksa berhadapan dengan hukum. Ustaz gaul tersebut dipolisikan gara-gara penggalan video ceramahnya yang viral di media sosial (medsos). Dalam ceramahnya, Evie menyebut nabi Muhammad SAW sesat.

Video ceramah Evie sudah tersebar sejak beberapa hari lalu di medsos. Dalam video berdurasi 1 menit 20 detik itu, Evie mengutip ayat 7 pada Surat Ad-Dhuha. Dia mengatakan Muhammad sebelum menjadi nabi adalah sesat. Dia juga mempertanyakan tradisi Muludan atau Maulid Nabi yang dilakukan kebanyakan masyarakat di Indonesia.

"Setiap kita bodoh, ada di Alquran Surat Ad-Dhuha, 'wa wajadakan dhooollan fa hada'. Setiap orang itu sesat awalnya, Muhammad termasuk. Maka kalau ada yang Muludan ini memperingati apa ini, memperingati kesesatan Muhammad," kata Evie dalam cuplikan ceramahnya.

Video ceramah Evie lantas viral di medsos. Atas dasar itu, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) perwakilan Jawa Barat melaporkan Evie ke Polda Jabar. Laporan dibuat atas nama Hasan Malawi ke Polda Jabar per tanggal 11 Agustus 2018. Evie dilaporkan atas dugaan UU ITE dengan nomor laporan: LPB/769/VIII/2018/JABAR.

 

Dalam laporannya, pelapor menyebut ceramah ustaz Evie soal tafsir surat Ad Duha ayat ke-7, yang menyatakan semua orang di muka bumi ini pernah tersesat, termasuk nabi Muhammad. Jadi orang yang memperingati maulid nabi memperingati kesesatannya.

"Ini kegelisahan muncul dari kader IPNU se-Jabar. Karena tafsiran yang dilakukan Evie Effendi sudah sangat krusial sekali salahnya," kata Hasan, Senin (13/8).

"Sehingga kemudian kita musyawarah dan sebagainya akhirnya kita ikhtiar melaporkan ke Polda Jabar. Karena eskalasinya di Jabar. Jadi muncul kegelisahan, khawatir kalau itu tidak dilakukan bisa repot," tutur Hasan yang menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Kaderisasi IPNU Jabar.

Menurut Hasan, tafsiran Evie Effendi soal nabi Muhammad keliru. Hal tersebut dikhawatirkan membuat masyarakat salah paham atas nabi Muhammad. Apalagi, kata dia, segmentasi Evie yang menyasar anak muda ini khawatir membuat generasi bangsa salah persepsi.

"Iya salah paham nanti generasi muda menerima begitu saja bahwa nabi itu sesat, menjalankan maulid nabi menyesatkan. Gimana rasionalisasinya?," ujar Hasan.

 

Evie sendiri kemarin ditemani oleh manajemennya mendatangi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar. Kedatangannya untuk meminta maaf sekaligus memberi penjelasan kepada MUI soal ucapannya itu. "Tabayun, menjelaskan, jadi setiap persoalan ada latar belakangnya," kata Evie.

Evie mengakui pernyataan soal 'nabi Muhammad sesat' dalam video itu murni kesalahannya. "Saya merasa ini mutlak kesalahan karena terlalu menafsirkan. Mutlak kesalahan karena kekurangan ilmu. Makanya terus kepada umat islam untuk belajar, belajar dan terus belajar. Jangan ke satu guru, ke satu kitab. Biar kepelesetnya enggak fatal seperti saya kemarin," tuturnya.

Evie menjelaskan video yang viral tersebut terjadi pada bulan Februari. Dia juga menyebut video yang tersebar tidak utuh alias diedit. "Ada fenomena yang terjadi kemarin video itu sepotong. Ini cara pandang yah karena sepotong videonya. Kalau nonton sampai akhir, kita akan dapat happy ending-nya," ucap Evie.

 
Sementara Ketua MUI Jabar Rachmat Syafe'i mengatakan tafsir Evie keliru. Dia menuturkan Evie menggunakan kata sesat itu dari pernyataan orang lain. Ucapan orang lain tersebut, sambung Rachmat, lantas oleh Evie ditafsirkan dalam ayat 7 surat Ad Dhuha.


"Iya nafsirin sendiri kesimpulan. Itu ditemukan sesat, saya bilang bukan begitu. Walaupun pakai katanya, saya sampaikan itu keliru. Tidak ada satu pun yang menyebut nabi sesat," tutur Rachmat. Sejak videonya viral, Evie sendiri sudah meminta maaf. Permohonan maafnya itu disampaikan melalui video yang diunggah ke akun Instagramnya.

Berikut ini pernyataannya.

"Dengan menyebut nama-Mu Ya Allah kami bertawakal, berikhtiar dengan pernyataan ini. Saya bersaksi tiada Illah kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah mutlak pilihan Allah dan utusan Allah sebagai Rahmatan lil Alamin untuk kami para umatnya. Saya Evie Effendie manusia biasa yang saya nyatakan saya bersalah karena di satu ceramah saya, saya menyatakan Muhammad sebelum diangkat nabi tersesat tapi maksudnya bukan itu.

Kalaupun itu sudah dianggap sebagai pernyataan dan sudah publish, mohon maaf atas kesalahan saya dengan pernyataan itu. Kepada ormas Islam. Muhammadiyah, Persis, NU atau apapun ormas Islam, atas nama pribad saya memohon maaf semoga ini menjadi hikmah dan pelajaran bagi siapapun agar berhati melisankan suatu terlebih agama. Dengan kejadian ini saya belajar banyak bahwa saya dhoif akan ilmu agama maka tolong bimbing saya, tuntun saya lebih bijak lebih arif menyampaikan pesan-pesan agama yang jadi tanggung jawab kita semua.

Apakah memaafkan saya? Apakah jemaah di sini memaafkan saya? Terima kasih semoga ungkapan amalnya menjadi amal saleh. Semoga Allah mengampuni seluruh kesalahan dosa apapun itu bentuknya sengaja tidak sengaja, kecil besar, sadar tidak sadar. Semoga Allah mengampuni".(dtk)


 

Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Nasional" Index »

Rabu, 19 September 2018 - 11:04:12 WIB

Legislator Pertanyakan Dasar Penyusunan RUU Kerja Sama Pertahanan Luar Negeri

Anggota Komisi I DPR RI Supiadin Aries Saputra mempertanyakan peran Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara yang tidak dimasukkan sebagai dasar penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kerja Sama Luar Negeri Bidang Pertahanan, khususnya dalam pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) RUU Kerja Sama antara Indonesia dengan Arab Saudi dan Belanda di Bidang Pertahanan.

Rabu, 19 September 2018 - 11:04:12 WIB

Legislator Pertanyakan Dasar Penyusunan RUU Kerja Sama Pertahanan Luar Negeri

Anggota Komisi I DPR RI Supiadin Aries Saputra mempertanyakan peran Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara yang tidak dimasukkan sebagai dasar penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kerja Sama Luar Negeri Bidang Pertahanan, khususnya dalam pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) RUU Kerja Sama antara Indonesia dengan Arab Saudi dan Belanda di Bidang Pertahanan.