Bantah Merapat ke Jokowi, Demokrat Masih Upayakan Poros Baru

Dibaca: 20375 kali  Jumat, 06 April 2018 | 11:28:06 WIB
Bantah Merapat ke Jokowi, Demokrat Masih Upayakan Poros Baru
Ket Foto :

Jakarta - Riautribune:Partai Demokrat membantah pernyataan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy yang menyebut partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono itu merapat untuk mendukung Presiden Joko Widodo di Pilpres 2019.

 

Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan mengatakan saat ini partainya masih berpegang pada keputusan rapat pimpinan nasional (rapimnas) awal Maret lalu yang belum menyatakan dukungan ke pihak manapun.

 

Komunikasi yang dijalin dengan partai yang belum menentukan sikapnya seperti PAN dan PKB disebut masih terus dilakukan.

 

"Komunikasi yang intens satu sama lain untuk terus berlangsung, maka segala sesuatunya masih mungkin. Kuncinya adalah berkomunikasi," kata Hinca di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (5/4).

 

Hinca menilai pernyataan Romahurmuziy alias Romi itu merupakan penafsiran pribadi setelah bertemu SBY saat kampanye pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Listianto Dardak beberapa waktu lalu.

 

Sebab kata dia, upaya kelanjutan pertemuan antara Demokrat, PKB, dan PAN terus dilakukan meskipun hingga kini belum mencapai titik temu.

 

Hinca pun sekaligus membantah sindirian PKB yang menganggap Demokrat tidak serius membangun poros alternatif. Justru kata Hinca, proses komunikasi pembentukan koalisi baru terhambat karena padatnya kegiatan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.

 

"Nah tiga kali sudah hampir bertemu, tidak jadi karena Cak Imin yang nggak datang, jadi jangan dibalik-balik. Jadi sudah disiapkan, ada Pak SBY, Bang Zul (Zulkifli Hasan) juga ada, dia tidak bisa," kata Hinca yang menjelaskan rencana pertemuan ketiga ketua umum partai setelah masing-masing sekretaris jenderal bertemu.

 

Meski demikian, Hinca meyakini jika semangat untuk membentuk poros alternatif dari tiga partai itu masih sejalan. Hanya saja saat ini disebut tinggal persoalan waktu.

 

"Tapi teman-teman ini April, Mei, Juni, Juli ini masih panjang. Biarkan lah waktu ini untuk terus berjalan. Jadi apakah ini terus berkomunikasi, masih terus berjalan tidak masalah," katanya.

 

Hinca mengklaim sejumlah keuntungan dapat diperoleh kepada partai yang ikut berkoalisi dengan partainya yaitu suara Demokrat sebesar 10 persen, pengalaman SBY memimpin pemerintahan selama 10 tahun dan sosok Agus Harimurti Yudhoyono yang diklaim memiliki segmen generasi milenial dengan suara hampir 100 juta orang.

 

"Oleh karena itu diskusi atau komunikasi ini bagi Demokrat tidak akan berhenti, terus," katanya. Di sisi lain, Hinca mengakui jika pilkada serentak tahun ini akan mempengaruhi perolehan suara di Pilpres 2019. Oleh karenanya saat ini seluruh partai disebut tengah berkeliling untuk memastikan dan menjaga elektabilitas masing-masing.

 

"Saya menggunakan istilah NJOP. Nilai jual objek partai naik. Karena itu harus dilakukan terus," katanya. Hinca menyebutkan 74 persen lebih pemilih pilkada tahun ini merupakan pemilih yang menggunakan hak pilihnya pada pilpres mendatang.

 

Apalagi ditambah fakta bahwa Pemilu 2019 baru pertama kali diselenggarakan secara serentak dan untuk lolos ke parlemen membutuhkan syarat 4 persen suara nasional.

 

"Karena itu apapun partainya pasti akan berusaha ada capres, cawapresnya supaya nilai partai naik. Kalau tidak bisa repot," ujarnya. (cnn)

Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Nasional" Index »