Kisah Hidup Keluarga Miskin di Inhil, Tinggal di Gubuk yang Nyaris Ambruk Tapi Pantang Mengemis

Dibaca: 9435 kali  Selasa, 13 Februari 2018 | 21:55:49 WIB
Kisah Hidup Keluarga Miskin di Inhil, Tinggal di Gubuk yang Nyaris Ambruk Tapi Pantang Mengemis
Ket Foto :

TEMBILAHAN - riautribune: Nasib keluarga memperhatinkan di salah satu Jalan Tanjung Harapan Parit 13, Kelurahan Pekan Arba, Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) sangat mebuat pilu.

Dari pantauan awak media, Rajali (59 Tahun) selaku kepala keluarga, yang mempunyai istri bernama Nurhayati (38 Tahun) dan anak perempuan Mardiana (11 Tahun) itu nenempati gubuk yang tidak layak huni.

Rumah yang berada sekitar 25 meter dari jalan besar Tanjung Harapan, kondisinya membuat miris. Dengan lebar 3 meter dan panjang 2 meter, tampak kondisi rumah sudah mau ambruk. Belum lagi tanah tempat mereka berpijak itu adalah tanah milik masyarakat.

Pekerjaan keluarga ini adalah memulung barang-barang tak terpakai untuk dijual lagi."Lebih baik kami memulung dari pada kami mengemis meminta-minta," ucap Nurhayati, Minggu (11/2/2018) siang.

Dalam hal ini, Nurhayati menceritakan sudah 6 tahun keluarganya tinggal di gubuk itu dan sampai saat ini tidak ada uluran tangan untuk membantu keluarga tersebut. Ditambah lagi umur yang sudah tua, beban dalam mendidik anaknya yang saat ini masih berstatus pelajar, kelas 4 SD.

"Cita-cita anak saya menjadi seorang dokter, tapi dengan faktor biaya yang tidak memungkinkan, mungkin tidak sanggup kami membiayai kemauannya. Sedangkan makan hari ke hari saja kami memulung dan kemungkinan anak kami sampai lulus SD ini saja sekolah. Semoga saja apa yang dicita-citakannya bisa tercapai," harapnya.

Selain rumah yang mau ambruk, alas untuk tidur saja hanya pakai kardus dengan papan melapak ke tanah langsung. Pendapatan perhari memulung paling besar Rp50.000, terkadang Rp10.000. Bisa juga tidak ada dapat sama sekali.

Tambah Nurhayati menceritakan, anaknya kemarin dilahirkan bukan di rumah, atau rumah sakit. Melainkan dilahirkan di becak tempat memuat barang hasil mulung. Mirisnya lagi, bisa dibilang anak ini besarnya juga di becak sampai ia masuk SD.

Bahkan karena sering dibawa larut malam untuk bekerja memulung, putrinya Mardiana hampir jadi korban kekerasan asusila oleh para pereman. Beruntung saja mereka mengetahui hal tersebut.

"Jika kami tidak mengetahui mungkin anak kami hancur masa depannya," sedihnya. Nurhayati berharap agar banyak yang mengulurkan tangan kepadanya, setidaknya menjenguk keadaan keluarga tersebut. (mal/rls/sn/def)

Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Fokus Riau" Index »