Keunggulan dan Kelemahan Balon Gubri 2018 Menurut Pengamat Politik Riau

Dibaca: 1935 kali  Kamis, 25 Januari 2018 | 11:51:03 WIB
Keunggulan dan Kelemahan Balon Gubri 2018 Menurut Pengamat Politik Riau
Ket Foto :

Riautribune:Genderang pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Riau sudah ditabuh. Empat Bakal Pasangan Calon (Bapaslon) akan bertarung.

 

Mereka semua memiliki kekuatan, kelemahan masing-masing, sehingga masyarakat bisa menilai hingga memilih siapa di antara mereka yang patut dipilih nantinya. Pengamat politik Riau, Saiman Pakpahan, mengatakan masing-masing Bapaslon memiliki basis kekuatan.

 

Namun derajad kuat sungguh berbeda. Arsyadjuliandi Rachman, saat ini menjabat sebagai Gubernur Riau akan diuntungkun dengan posisi nyaman sebagai Gubernur, ketika berhadapan dengan Bapaslon lainnya. Petahana, kata Saiman, lazim mendapatkan keuntungan berupa posisi kekuasaan yang merata di seluruh Kabupaten/Kota di Riau. Punya kekuatan uang dan birokrasi. Dari sisi kepartaian, Arsyadjuliandi Rachman juga adalah ketua partai pemenang pemilu di Riau. Basis kekuasaan partai akan menguntungkan beliau.

 

Firdaus, kata Saiman, adalah Walikota Pekanbaru 2 periode, dan diyakini punya basis teritorial Pekanbaru, didukung penuh oleh Kabupaten Kampar sebagai basis etnis Firdaus.

 

Sementara Syamsuar, Bupati Siak, menurut Saiman, adalah calon Gubernur Riau yang paling besar untungnya lantaran opini yang memposisikan beliau berhasil membangun Kabupaten Siak dengan tata kelola pemerintahan yang bersih. "Syamsuar juga diuntungkan dengan citra partai bersih yang mendukung beliau di Pilgubri. Dan diketahui juga, dua kepala daerah Dumai dan Meranti adalah ketua Parpol yang mengusung Syamsuar," ungkap Saiman.

 

Sementara Lukman Edi, kekuatan beliau ada di jejaring elite, karena beliau lebih lama berkarir di Jakarta ketimbang di Pekanbaru.

 

Sementara terkait kelemahan masing-masing bakal calon Gubernur Riau, Saiman menguraikan, Arsyadjuliandi Rachman dibaca publik sebagai pemimpin yang sangat lambat dan berhati-hati. Atas alasan itu, masyarakat menempatkan beliau tidak pada urutan paling atas setiap kali survei. Kelemahan berikutnya adalah, opini terlibatnya keluarga dalam posisi tertentu yang beririsan dengan kebijakan gubernur. Ini menjadi isu publik di Riau.

 

"Kalau Firdaus dinilai pimpinan yang gagal mengelola Kota Pekanbaru, terutama pada sektor banjir, sampah dan kemacetan," kata Saiman.

 

Sedangkan kelemahan Syamsuar, kata Saiman, dia adalah bupati dan pimpinan yang berbasis Pamong Praja tulen, terlihat dan terkesan lambat dalam urusan-urusan taktis, meski diakhir beliau mampu menyelesaikan persoalan. "Syamsuar adalah tipikal kepemimpinan yang tradisional, namun sangat membela rakyat Melayu dan merangkul semua etnis suku dan agama," ucap Saiman.

 

Sementara kelemahan Lukman Edy, sangat elitis, terlalu banyak main di media, tidak mampu menjangkau akar persoalan.

 

"Sekarang yang harus dilakukan masing calon Gubernur ini dalam mencuri perhatian masyarakat dengan kerja nyata. Saat ini, masyarakat tinggal menghakimi para calon karena kerja telah mereka lakukan beberapa tahun yang lalu," ujar Saiman.(go)

Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Fokus Riau" Index »