Dikawal SKK,

Pertamina EP Lirik Tetap Berbuat untuk Masyarakat

Dibaca: 60151 kali  Kamis, 21 Desember 2017 | 14:25:24 WIB
Pertamina EP Lirik Tetap Berbuat untuk Masyarakat
Ket Foto :
PEKANBARU - riautribune : PT PERTAMINA EP Asset 1 Lirik Field prakarsai seminar migas dengan melibatkan SKK Migas dan akademisi dari Universitas Riau.
 
Sebagai salah satu rangkaian acara peringatan HUT ke-60 PT Pertamina (persero), PT Pertamina EP Asset 1 Lirik Field menggelar acara bertajuk Pertamina Goes To Community (PGTC) yang dikemas dalam seminar migas kerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unri, Selasa (19/12)
 
Bertempat di Auditorium Fakultas MIPA Universitas Riau seminar ini mengangkat tema menciptakan inovasi berdaya saing unggul dalam industri hulu migas nasional, seminar kali ini mampu menyedot perhatian ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di riau. 
 
Hadir sebagai pemateri yakni Lirik Field Manager Dirasani Thaib, Asset 1 Planning Manager Dicki Hendrian, Staf Urusan Humas SKK Migas Perwakilan Sumbagut Kanya Jenri Kainama, dan Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi Unri Darmayuda SE MSi
 
Lirik Field Manager Pertamina EP, Dirasani Thaib dalam pemaparannya menjelaskan Pertamina dalam rangka mencukupi kebutuhan energi dalam negeri terus melakukan berbagai inovasi."Semua aktivitas yang dilakukan saat ini oleh Pertamina EP merupakan sebuah langkah inovasi," katanya.
 
Dia menjelaskan beberapa cara yang dilakukan Pertamina EP saat ini dalam rangka menjaga stabilitas bahkan peningkatan produksi migas di antaranya dengan menerapkan gross up yang membuat sumur tua tetap berproduksi.
 
Selain ini dalam rangka menyikapi cadangan minyak yang semakin minim di Lirik Field Pertamina saat menerapkan pembuatan line injeksi dari pipa bekas yang masih layak dalam rangka menekan pengeluaran produksi yang besar saat ini."Pertamina dalam rangka itu terus berupaya keras melakukan berbagai inovasi dalam hal produksi migas tersebut," tuturnya.
 
Ia menjelaskan di tahun ini Pertamina EP memiliki target produksi sebesar 1.700 BOPD. Angka ini untuk tahun 2017 telah memenuhi target sebesar 1.800 BOPD lebih."Kita di tahun depan dengan memaksimalkan penerapan Gross Up ditargetkan akan mampu 2.400 BOPD," tegasnya.
 
Staf Urusan Humas SKK Migas Perwakilan Sumbagut, Kanya Jenri Kaynama di seminar tersebut memaparkan dalam kondisi produksi minyak yang terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun, sementara konsumsi terus meningkat SKK Migas terus mendorong para K3S untuk terus melakukan eksplorasi dan eksploitasi. Ini dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan energi bangsa.
 
Ia menyampaikan langkah ini perlu dilakukan demi menggantikan jumlah energi minyak yang dikonsumsi selama ini.Disampaikan di tahun 2017 terhitung perbandingan antara produksi minyak dengan jumlah minyak yang dikonsumsi masih di bawah 70 persen.
 
Dari perbandingan tersebut produksi minyak yang dilakukan hanya mampu menggantikan 70 persen dari jumlah minyak yang dikonsumsi.Karena kondisi tersebut saat ini pemerintah terpaksa melakukan impor migas.
 
Agar mampu memproduksi minyak secara maksimal di wilayah yang sudah ada, SKK Migas saat ini tengah menyusun pemisahan renacana kerja antara wilayah produksi di bagian barat Indonesia dengan wilayah bagian timur Indonesia."Ini dijalankan karena di dua wilayah ini memiliki sistem serta treatmant yang tidak sama dalam hal produksi migas," tuturnya.
 
Selain itu saat ini SKK Migas mendorong para K3S untuk mengoptimalisasi jumlah sumur eksplorasi pada suatu struktur dengan mempertimbangkan radius investigasi dan luas area struktur.
 
"Ini penting dilakukan mengingat investasi di sektor migas yang padat modal, padat karya dan berbiaya tinggi," ujarnya.SKK Migas juga saat ini terus memantau K3S dalam hal menahan laju penurunan produksi sekligus peningkatan produksi."Saat ini kita gencar mendorong K3S untuk terus melakukan eksplorasi dalam rangka mencegah terjadinya krisis migas," katanya.
 
Ia mengatakan SKK Migas saat ini terus mengusulkan dan mendorong K3S memanfaatkan teknologi dalam rangka meningkatkan produksi. Penerapan teknologi seperti EOR Surfactant, Steam Fload, Gross Up dan sebagainya yang diyakini mampu memacu produksi migas.
 
Sementara itu Pengamat Ekonomi, Dharmayuda SE MSu menilai produksi migas di Riau masih perlu digenjot di tengah kondisi ekonomi Riau masih tergantung pada komoditas ini. Krisis migas jika terjadi bisa berdampak buruk bagi ekonomi Riau.
 
Selain itu dalam materinya disaranakan agar pengelolaan ladang migas di Riau bisa dikelola sepenuhnya oleh para kontraktor nasional.(kro)
 
Akses Riautribune.com Via Mobile m.riautribune.com
 
Tulis Komentar Index »
Baca Juga Kumpulan Berita "Fokus Riau" Index »