CSR Pertamina RU II Sungai Pakning Ajak Seluruh Stakeholder ke Yogyakarta
Ket. Foto - Ketua Komisi V DPRD Riau, Eddy A Mohd Yatim (kanan) didampingi Manajer Produksi Kilang Pertamina RU II Sei Pakning, Fajar Basuki saat mengunjungi Kelompok Tani Tunas Makmur dari Desa Kampung Jawa kecamatan bukit batu Bengkalis.

CSR Pertamina RU II Sungai Pakning Ajak Seluruh Stakeholder ke Yogyakarta

Selasa, 21 Januari 2020|14:49:32 WIB



YOGYAKARTA - riautribune :  Dalam rangka pengembangan program pemberdayaan masyarakat, CSR Pertamina RU II Sungai Pakning melakukan benchmarking di desa-desa wisata yang ada di Jogjakarta. Kegiatan ini dilakukan karena dinilai penting dalam melihat pengelolaan desa wisata yang mandiri dan berkelanjutan. Benchmarking yang dilakukan pada 22-25 Januari 2020 ini diikuti oleh beberapa perwakilan kelompok binaan CSR Pertamina RU II Sungai Pakning seperti Kelompok Tani Tunas Makmur dari Desa Kampung Jawa dan Kelompok Mangrove Harapan Bersama dari Desa Pangkalan Jambi. Tak hanya kelompok masyarakat, sejumlah stakeholder juga disertakan dalam kegiatan benchmarking ini seperti Kepada Desa , Camat, hingga perwakilan dari DPRD Provinsi Riau.

 

Kegiatan benchmarking atau studi banding ini diharapkan dapat membuka wawasan dan memberikan ide-ide yang lebih luas kepada para stakeholder serta masyarakat yang terlibat untuk dapat mengembangkan potensi desa secara maksimal. Beberapa lokasi yang menjadi tujuan kegiatan ini adalah :

  1. Desa Wisata Mangrove

 Desa Wisata Mangrove yang berlokasi di Kabupaten Kulon Progo menjadi lokasi pertama yang dikunjungi oleh para peserta kegiatan. Sasaran utama dalam kunjungan ini adalah Kelompok Mangrove Harapan Bersama dari Desa Pangkalan Jambi.

“ Kami senang sekali diajak dalam kegiatan studi banding ini karena kami jadi lebih tau bagaimana cara mengembangkan Mangrove Education Center yang ada di desa kami. Tidak hanya untuk tempat edukasi saja, tetapi bisa untuk tempat wisata”. Ungkap Jefridin, salah satu anggota Kelompok Harapan Bersama.

  1. Sentra Kerajinan Serat Alam

Desa Nanggulan di Kabupaten Kulon Progo menjadi tujuan kedua dalam kegiatan ini. Yaitu pusat pengelolaan serat-serat alam untuk dijadikan berbagai bentuk kerajinan seperti tas, dompet, kursi, meja dan alat-alat rumah tangga yang memiliki nilai seni yang tinggi dengan pemanfaatan serat tanaman. Peserta diberikan kesempatan untuk dapat menganyam langsung serat-serat tanaman seperti serat dari pohon pisang yang dijadikan piring makan. Kemudian hasil dari karya anyaman para peserta dapat dibawa pulang ke rumah masing-masing.

Seperti halnya di Desa Kampung Jawa, Kelurahan Sungai Paknig, Ibu-ibu Kelompok Tani Tunas Makmur juga memiliki kegiatan semacam ini, yaitu pemanfaatan limbah daun nanas pasca panen untuk dijadikan kerajinan tas-tas cantik yang telah memiliki nilai jual.

Sehingga, kegiatan menganyam di Desa Nanggulan ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada para peserta untuk dapat memanfaatkan serat-serat tanaman dalam pembuatan produk/kerajinan yang ramah lingkungan.

“Selama ini kami hanya tau daun nanas saja yang dapat dimanfaatkan jadi tas. Ternyata serat dari daun pisang pun bias dimanfaatkan untuk jadi barang-barang yang cantic dan dapat dijual”. Tutur Aryati, salah satu anggota Kelompok Tani Tunas Makmur.

  1. Desa Wisata Pentingsari

Pada hari kedua kegiatan benchmarking ini, peserta diajak berkunjung di Desa Pentingsari yang terletak di Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Desa Pentingsari yang merupakan pelopor desa wisata yang ada di Yogyakarta yang memberikan beberapa suguhan yang menarik bagi para pengunjung. Salah satu nya ketika diajak untuk melihat bagaimana proses budidaya kopi di desa ini. Peserta diajak untuk melihat mulai dari proses pemetikan kopi hingga proses penggorengan yang diakhiri dengan proses penumbukan kopi hingga menjadi kopi bubuk jenis robusta.

Tak hanya itu, peserta juga diajak untuk melihat Joglo Herbal yang merupakan tempat untuk memproduksi obat-obatan herbal di Desa Pentingsari. Dengan suasana desa yang sejuk, peserta sangat antusias dalam mengikuti setiap kegiatan.

  1. Radio Komunitas Lintas Merapi

Masih di Kabupaten Sleman, peserta diajak untuk mengunjungi Radio Komunitas Lintas Merapi yang terletak di Desa Deles. Radio Komunitas yang dikelola oleh masyarakat lokal menjadi pusat informasi bagai warga yang tinggal di lereng Gunung Merapi ketika terjadi bencana erupsi. Peserta benchmarking yang berasal dari anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) Sungai Pakning, menjadi sasaran utama dalam kunjungan ini.

Pembelajaran dari pengelolaan radio komunitas ini diharapkan dapat dijadikan referensi oleh MPA Sungai Pakning dalam manajemen informasi Kebakaran Lahan dan Hutan (Karhutla) yangf terjadi di Sungai Pakning.(adv)







Berita Terkait

Baca Juga Kumpulan Berita Fokus Riau

MORE

MOST POPULAR ARTICLE